Buah Perjuangan

Gaji Sutini tidak dibayar selama 4 tahun. Selama 4 tahun itu kakaknya Mia (nama Samaran) dan saya berjuang untuk membebaskan dia dari employer yang tidak baik itu.

Saya menuliskan cerita sukses ini semoga bisa menjadi inspirasi buat sahabat pekerja migran yang membacanya.

Mia menghubungi saya pada tahun 2015. Ia bercerita bahwa adiknya bekerja di Singapura sudah lebih dari 2 tahun tetapi tidak pernah pulang. Komunikasi dengan keluarga juga terhenti. Saat itu saya masih bekerja di sebuah NGO di Singapura.

Saya meminta data passport tapi kakaknya mengatakan mereka tidak memegang data apapun. Jadi ia hanya bisa memberikan nama lengkap saja. Berdasarkan nama lengkap itu, saya menghubungi seorang rekan yang kemudian membantu mencari di siskotkln. Ia berangkat resmi maka kami mendapat data. Data itu minim sekali tapi setidaknya ini bisa menjadi landasan bagi saya untuk berkomunikasi dengan kedutaan.

Saya kemudian mengirim email ke duta besar dan langsung ditanggapi baik. Setelah upaya ini akhirnya adiknya berkomunikasi ke ibunya dan mengatakan dia baik-baik saja. Dia mengatakan tidak perlu khawatir dengan kondisinya karena dia sehat dan baik bekerja. Pada dasarnya si kakak sudah curiga dan terus mengejar tapi karena pengakuannya seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan.

Tiga tahun kemudian kakaknya kembali menghubungi saya. Ia mengatakan sejak telepon saat itu adiknya tidak pernah menghubungi kembali. Dan praktis sudah 5 tahun adiknya tidak pulang. Saat itu saya sudah kembali ke Indonesia dan dalam persiapan mendirikan Yayasan Gaol MIgran Mandiri.

Saya kemudian mengontak kepala BNP3TKI Lampung dan juga ditanggapi baik. Keesokan harinya mereka langsung berkirim surat ke kedutaan besar. Beberapa waktu kemudian kedutaan menjawab surat mereka dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Karena respon kedutaan seperti itu, BNP3TKI kemudian langsung mendatangi keluarga dan hasil pertemuan mereka menjadi landasan yang kuat bagi mereka untuk mengatakan kepada kedutaan bahwa anak ini tidak baik kondisinya. Bagaimana mungkin dia baik ketika tidak pernah komunikasi dengan keluarga dan tidak pernah pulang setelah bekerja 5 tahun?

Karena respon kedutaan seperti itu, saya meminta kakaknya untuk langsung mendatangi kedutaan dan meminta alamat employer. Akhirnya alamat bisa didapat. Karena saya tahu bahwa kakaknya pernah bersitegang dengan employer melalui telepon 3 tahun sebelumnya, saya kemudian mengontak rekan sekerja di NGO Singapura untuk mendampingi dia berkunjung ke rumah employer. Ini saya lakukan agar kakaknya juga terproteksi mengingat ia juga adalah seorang pekerja di Singapura.

Mereka kemudian berkunjung ke rumah employer. Dari pertemuan itu, employer ini bermulut manis dan sempat membuat rekan saya itu sedikit bias dan percaya bahwa anak itu baik-baik saja. Sebelum pertemuan saya minta kepada rekan saya untuk memaksa meminta komitmen employer kapan akan mengizinkan anak itu pulang ke keluarga untuk liburan. Employer berjanji akan mengizinkan pulang ketika lebaran beberapa bulan kemudian.

Ketika lebaran tiba ia akhirnya bisa pulang. Dalam diskusiku dengan kakaknya, aku sarankan untuk melakukan pendekatan yang sangat baik kepada adiknya untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Pada awalnya adik tersebut tidak mau bercerita. Tapi melalui pendekatan persuasif yang terus dilakukan oleh keluarga, akhirnya diketahui bahwa gajinya selama 4 tahun ditahan oleh employer. Ia diancam harus kembali jika ingin gaji itu dia peroleh. Ia juga menceritakan bahwa employer itu kerap memotong gajinya ketika ada barang yang rusak. Ketika tiba di rumah tersebut, employer menghancurkan HP nya agar ia tidak bisa komunikasi dengan keluarga.

Keputusan keluarga kemudian menahan dia untuk tidak pulang kembali ke Singapura. Kondisi ini membuat ia stress sampai ia teriak-teriak memukul-mukul kepalanya sendiri. Keluarga benar-benar berada dalam kondisi yang sangat sulit dan penuh dilema. Saya terus berkomunikasi dengan kakaknya dan mendorong si adik untuk kembali ke Singapura jika kondisinya sudah stabil. Saya akan mengontak NGO partner saya di Singapura untuk bisa menampung dia di Singapura dan mengadukan kasusnya ke otoritas Singapura.

Akhirnya hari keberangkatan tiba. Di Singapura NGO partner kemudian melaporkan kasusnya ke Kementerian Tenaga Kerja. Sekitar 2 minggu di penampungan adik tersebut memperoleh gajinya sebesar SGD 20,000.-. Potongan-potongan yang dilakukan employer tidak dibenarkan oleh hukum Singapura sehingga ia bisa mendapat hak sepenuhnya.

Begitulah buah manis perjuangan. Walaupun ia sudah kembali ke Indonesia, peluang untuk mendapatkan hak di Singapura masih sangat besar. Jangan pernah ragu untuk memperjuangkan hak. Kebenaran pasti akan menemukan jalannya sendiri untuk menjadi hak milik si empunya kebenaran!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Notice: Undefined index: popup_cookie_ofair in /home/gaolorid/public_html/wp-content/plugins/cardoza-facebook-like-box/cardoza_facebook_like_box.php on line 924